Al-Qur’an & Sains Modern

PENDAHULUAN

Manusia yang hidup ini senantiasa ingin tahu, dan ingin selalu tahu, bagaimana kepercayaan yang harus diyakininya, dan bagaimana pula kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan.

Allah maha sempurna, tidak ada satu pun kekurangan dari Allah yang menciptakn bumi beserta isinya. Allah ciptakan manusia berpasang-pasangan, ada perempuan ada laki-laki, ada malam ada siang, dan lain sebagainya.

Allah menciptakan segala sesuatunya dengan berbeda-beda satu dengan yang lain, tidak ada yang sama, walau sama bentuknya tapi beda cara tumbuh, berbunga dan berbuahnya. Allah lah yang menciptakan segala alam ini, dan menjadikan khasiat dari tiap-tiap yang ada di alam ini.

 

PEMBAHASAN

TENTANG KETUHANAN

Tuhan itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tidak bersifat dengan segala kekurangan. Semua sifat-sifat itu tersebut dalam Al-Qur’an, dan sesuai atau dapat diterima oleh akal kita, dengan dalil-dalil atau keterangan-keterangannya.

Di bawah ini akan dijelaskan sifat-sifat Allah ;

  1. ALLAH ADA

Di dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai berikut ;

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Al-Baqoroh :163) 1

Bukti atas adanya Tuhan ialah adanya alam ini, kalau Tuhan yang menjadikan alam ini tidak ada tentulah alam ini juga tidak ada. Kita melihat dengan mata kepala adanya alam. Ini suatu bukti bahwa yang menjadikan alam ini ada. Kalau kita melihat suatu rumah sudah jadi dan kelihatan bagus, sudah barang ttentu kita yakin bahwa ada tukang yang membuatnya, tak mungkin rumah itu berdiri sendiri tanpa ada yang membangunnya.

Firman Allah :

Artinya :” Amat suci Ia, Ia Tuhan yang Esa lagi gagah. (Az Zumar : 4)2


  1. 1.                Zarkasyi. 1995. Usuluddin.  Gontor : Trimurti
  2. 2.                Abbas, Siradjuddin. 1995. I’tiqod. Jakarta ; pustaka tarbiyah.

 

Al-Mujadalah ayat 7

Artinya : “ tiada yang berbisik ketiga melainkan Ia yang ke-empat, tiada yang berbisik berempat melainkan Ia yang ke-lima, tiada yang berbisik berlima melainkan Ia yang ke-enam, tiada kurang dari itu, tiada lebih dari itu, melainkan Ia bersama di mana mereka berada.”

 

  1. ALLAH MAHA KUASA DAN MAHA MENGETAHUI

Allah itu kuasa, Paling kuasa, bahkan Maha Kuasa.

Allah itupun mengetahui, bahkan Maha Mengetahui.

Kekuasaan itu disebut Qudrat, yang berkuasaa dikatakan Qadir (Qaadiran),

Pengetahuan dalam Bahasa Arabnya Ilmun, yang berpengetahuan disebut ‘Aalim (‘Aaliman).

Di dalam Al-Qur’an disebutkan :

“Sesungguhnya Allah itu amat berkuasa atas segala sesuatu.”(Al-Baqarah : 20)

“Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya.”(Al-An’am: 61)

“Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(Al-Baqarah : 29)3

Menurut Akal :

Mengingat dan memperhatikan  segala apa yang dijadikan oleh Allah, niscaya dengan seketika kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Allah itu Maha Kuasa dan Maha Mengetahui (Berpengetahuan Tinggi).

Keterangan 1

Apabila kita memperhatikan diri kita sendiri, makanan masuk kedalam tubuh, kemudian terbagi ketempat masing-masing di dalam tubuh, sedang tubuh itu tumbuh dengan bermacam-macam bentuk dan coraknya, menjadi daging, menjadi rambut, menjadi kuku, menjadi tulang, menjadi zat cairan dan sebagainya.

  1. ALLAH BERKEMAUAN (IRADAH dan MURIDAN)

Berarti bahwa Allah menjadikan segala sesuatu, dengan kemauan, dengan sengaja. Jadi tidak hanya kebetulan saja. Kemauan atau kehendak itu disebut Iradah. Yang berkehendak disebut Muridun (Muridan). 3

Dalam Al-Qur’an disebutkan ;

“Sesungguhnya apabila Dia Menghendaki sesuatu perintah-Nya hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah !” maka jadilah ia.”(Yasin 82).

Menurut Akal ;

Hal ini menurut akal tentu mudah diterima. Apabila kita memperhatikan pula kejadian alam, dengan peraturan-peraturannya yang rapi, ttetu kita yakin, banwa semua itu diatur dengan kemauan, dan mustahil hanya dengan kebetulan saja.

Peraturan peredaran bumi, bulan dan segala planet yang lain, menunjukkan adanya peraturan yang sengaja dibuat untuk itu. Memperhatikan tumbuh-tumbuhan, masing-masing jenis mempunyai peraturan pertumbuhannya sendiri-sendiri, dan menghasilkan buahnya sendiri-sendiri pada waktu yang tertentu. Jagung umpamanya, tumbuh dengan syarat-syaratnya sendiri, dalam waktu tertentu, dan menghasilkan jagung pula yang mempeunyai hasil yang tertentu pula.

Demikian pula tiap-tiap jenis mempunyai peraturan sendiri. Semua itu tentu tidak dapat kita katakana hanya terjadi dengan kebetulan.

  1. KEKUASAAN DAN KEHENDAK ALLAH (QADRAT-IRADAT ILAHI)

Karena Tuhan itu maha kuasa, maka tentu segala yang dikehendaki itu pasti terjadi, tidak ada sesuat yang dapat memaksanya. Jika sekiranya ada Tuhan yang terpaksa,  atau menerima perintah orang lain, maka tidak dapat dipercaya, bahwa Dia itu Allah yang sebenarnya, Yang Maha Kuasa.

Maka dari itu segala sesuatu yang terjadi, tentu tidak lepas dari Qudrat dan Iradat Ilahi, artinya tidak lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan.

  1. 3.                  Al- Qur’an Terjemah
  2. 4.                Zarkasyi. 1995. Usuluddin.  Gontor : Trimurti
  3. ALLAH TAK BERBANDING (MUKHALAFATU LIL-HAWADITS)

Allah itu bersifat berlainan dari semua makhluk berlainan dari pada hawadits, berarti berbeda dengan sekalian yang baru.

Dalam Al-Qur’an disebut :

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).(As-Asyura :11).

“Dan tidak ada siapapun yang sama dengan Dia.”(Al-Ikhlas :4).

Keterangan menurut akal ;

Jika kita mengambil contoh barang yang dibuat oleh manusia ataupun binatang, dapatlah kita ketahui, bahwa yang membuat itu tidak akan sama dengan apa yang dibuat. Di antara benda yang dibikin tukang besi, kayu, emas, dan sebagainya tidak ada yang sama dengan tukangnya.

Mengingat hal itu, bahwa Allah itulah yang menjadikan segala makhluk dari tidak ada menjadi ada, maka tentu saja mustahil, apabila Allah itu sama seperti yang diciptakan.

  1. ALLAH BERDIRI SENDIRI (QIYAMUHU BINAFSIHI)

Artinya Allah sebagai Tuhan itu tidak karena diangkat atau dipilih atau dipaksa oleh siapapun.

Dalam Al-Qur’an disebutkan :

“Tidak ada Tuhn melainkan Dia Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri.”(Al-Baqarah: 255).

Kalau sekiranya Tuhan itu masih dipaksa, atau terpaksa, atau ada yang memerintah-Nya, maka tidak kuasalah namanya, dan tidak sempurna pula. Padahal Allah itu paling berkuasa, tidak ada sesuatu yang lebih berkuasa dari pada-Nya, yakni Maha Kuasa dan Maha Sempurna.

Maka dari itu Allah tidak berhajat kepada sesuatu bahkan segala sesuatu itu, adanya bergantung kepada kekuasaan dan kehendak Allah.

  1. ALLAH MAHA DAHULU DAN KEKAL (QIDAM DAN BAQA’)

Artinya Allah itu ada terlebih dahulu dari segala sesuatu, dan kekal tidak berubah-ubah.

Dalam Al-Qur’an disebutkan ;

“Ialah (Tuhan) Yang Awal (tidak berpemulaan) dan Yang AKhir (tidak berkesudahan).’(Al-Hadid :3).

“Tiap-tiap sesuatu akan binasa, kecuali Dzat Allah.”(Al-Qashash :88).

Keterangan menurut akal :

Telah jelaslah bahwa Allah juga yang menjadikan sesuatu. Yang membuat atau mengadakan segala sesuatu itu, tentu saja adanya lebih dulu dari pada yang dibuat, yakni Allah yang mengadakan sekalian makhluk ini. Tentu saja adanya terlebih dahulu dari pada sekalian makhluk. Maka Allah itu adanya lebih dahulu dari segala sesuatu yang ada, bahkan Maha Dahulu.

Kalau sekiranya masih ada permulaan, tentu ada yang mengawalinya, atau ada yang menjadikannya. Padahal Tuhanlah yang menjadikan segala sesuatu, bukan yang dijadikan. Yang masih dijadikan itu, masih makhluk namanya, bukan Tuhan yang sebenarnya.

  1. ALLAH MAHA ESA

Allah itu satu, atau disebut Esa atau tunggal. Sifat keEsaan Allah itu disebut wahdaniyah. Yang bersifat satu disebut ahad atau wahid.

Dalam Al-Qur’an disebutkan :

“Katakanla : Dialah Allah Yang Maha Esa,”(Al-Ikhlash).

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Ea.”(Al-Baqarah :163).

Keterangan menurut akal :

Bermacam-macam jalan untuk menerangkan,, bahwa Allah itu hanya satu, dengan memperhatikan keadaan alam dan perjalanannya, dan juga menuruti jalan pikiran.

Di antara keterangan-keterangan itu yang mudah adalah sebagai berikut :

Andaikata Tuhan ada dua atau lebih, dapatkah yang satu membinasakan yang satu ? kalau sekiranya dapat, maka yang binasa itu bukan Tuhan yang sebenarnya. Allah Maha Kekal, mustahil akan binasa.

  1. ALLAH HIDUP, MENDENGAR, MELIHAT, DAN BERBICARA
    1. Sifat hidup Allah disebut Hayaah.

Dzat yang hidup disebut Hayyun (Hayyan).

  1. Sifat Allah mendengar disebut Sam’un.

Dzat yang mendengar disebut Sami’un(Sami’an).

  1. Sifat Allah melihat disebut Bashar.

Dzat yang melihat disebut Bashirun (Bashiran).

  1. Sifat Allah berbicara disebut Kalaam.

Dzat yang berbicara disebut Mutakallilun (mutakalliman).

Dalam Al-Qur’an disebut sebagai berikut :

“Tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri,”

(Al-Baqarah : 255).

“Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan melainkan Dia”(Al-Mukmin :65)

“Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Al-Maidah :76)

“Sesungguhnya Dia Melihat segala sesuatu.”(Al-Mulk :19)

“Dan adalah Tuhanmu itu Maha Melihat.”(Al-Furqon :20)

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”(An-Nisa’ ;163)5

Keterangan menurut akal :

Allah yang menjadikan alam, bersifat berkehendak dan berkuasa. Maka tentu saja Tuhan itu hidup, mendengar, melihat dan berbicara. Mustahil Allah tidak bersifat demikian. Apabila Allah bersifat mati atau tuli, buta, bisu, maka bagaimanakah dapat mmengadakan dan meniadakan alam ini, dan bagaimana pula dapat mengadakan bunyi-bunyian dan segala bentuk yang beraneka warna.

Allah yang menghidupkan manusia, dan menjadikan manusia mendengar, melihat dan berbicara. Apabila Allah bersifat mati, tuli, buta atau bisu, maka berarti tidak sempurna dan tidak berkuasa. Tetapi Allah berlainan dengan alam. Maka dari itu hidup-Nya, mendengar-Nya, melihat-Nya, dan berbicara-Nya tentu saja tidak sama dengan makhluk.

5 Al-Qur’an Terjemah

  1. ALLAH MAHA BIJAKSANA

Segala perbuatan Allah itu dari kehendak-Nya serta cocok  dengan ilmu-Nya yang sempurna. Sebab itu segala perbuatan Allah itu tidak terpaksa, dan semua itu tentu ada faedah dan hikmahnya.

BUKTI ;

Kalau kita melihta perbuatan manusia yang cerdas akalnya, tinggi ilmunya, luas pemandangannya niscaya tidak ada diperbuatannya yang tidak berguna. Berbeda sekali dengan perbuatan orang yang bodoh, perbuatanya kebanyakan tidak berfaedah. Dan orang-orang yang boodoh, tidak mmengerti akan maksud orang-orang yang pandai. Bahkan kerapkali mereka mencela perbuatannya, sebab dari kedangkalan ilmunya, dan dari pemandangannya yang sempit.

Kejadian-kejadian yang luar biasa

Agar manusia tidak mengira bahwa kejadian alam ini (manusia dan sebagainya), hanya dari tabiatnya sendiri, maka Allah Yang Maha Kuasa, pada suatu ketika menjadikannya luar biasa. Umpamanya, manusia lahir tidak bertangan atau tidak bertelinga, atau jarinya lebih, atau bahkan tidak berkaki. Dengan itu, tentunya manusia harus mengakui bahwa Allah-lah yang lebih berkuasa, bahkan Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki.

Dalam Al-Qur’an disebutkan :

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.’(Huud :107).6

  1. 6Zarkasyi. 1995. Usuluddin.  Gontor : Trimurti

KESIMPULAN

Allah adalah pencipta segala apa yang ada di alam ini, Allah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dan semua itu berubah-ubah dari suatu keadaan yang lain sifatnya. Missal dari kecil menjadi besar, pendek menjadi panjang, malam menjadi siang, dan sebagainya.

Allah itu satu tidak ada yang mengawali dan mengakhiri. allah juga mencitkan segala sesuatu anpa ada paksaan dan terpaksa. Kalau sekiranya Tuhan itu masih dipaksa, atau terpaksa, atau ada yang memerintah-Nya, maka tidak kuasalah namanya, dan tidak sempurna pula. Padahal Allah itu paling berkuasa, tidak ada sesuatu yang lebih berkuasa dari pada-Nya, yakni Maha Kuasa dan Maha Sempurna.

Allah yang menjadikan alam, bersifat berkehendak dan berkuasa. Maka tentu saja Tuhan itu hidup, mendengar, melihat dan berbicara. Mustahil Allah tidak bersifat demikian. Apabila Allah bersifat mati atau tuli, buta, bisu, maka bagaimanakah dapat mmengadakan dan meniadakan alam ini, dan bagaimana pula dapat mengadakan bunyi-bunyian dan segala bentuk yang beraneka warna.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas. Siradjuddin. 1995. I’tiqot ahlusunnah wal jamaah. JAKARTA : PUSTAKA TARBIYAH

Zarkasyi. 1995. Usuluddin (‘aqa’id). GONTOR : TRIMURTI

Al-Qur’an Terjemah

%d blogger menyukai ini: