Menjadikan Guru Sebagai High Class Profession

Di negeri ini sudah menjadi realitas umum  guru bukan menjadi profesi yang berkelas bahkan menempati strata (tingkatan) yang rendah secara sosial maupun ekonomi di bandingkan dengan profesi lainnya. walau baru sebulan sebulan saya berfrofesi menjadi seorang guru tapi sudah merasakan perbandingannya, dari Sosial misalnya menjadi Teller di Bank Jatim,bekerja kantoran akan lebih terlihat high class dibandingkan berfrofesi menjadi seorang guru. kalau dari segi ekonomi juga jauh sekali perbandingan gaji guru dengan gaji teller bank dan kerja kantor mungkin 2x lipat atau 3x lipatnya, Padahal kalau dilihat dari segi posisi guru adalah operator sebuah kurikulum pendidikan. Ujung tombak pejuang pengentas kebodohan. Bahkan guru adalah mata rantai dan pilar peradaban dan benang merah bagi proses perubahan dan kemajuan suatu masyarakat atau bangsa.

 

 

Kini, lihatlah Indonesia, negara yang sangat kurang respek dengan posisi guru. Negara yang kurang peduli dengan nasib guru. Kini lihatlah hasilnya. Apabila mengacu pada Human Index Development (HDI), Indonesia menjadi negara dengan kualias SDM yang memprihatinkan. Berdasarkan HDI tahun 2007,  Indonesia berada diperingkat 111 dunia dari 177 negara. Bila dibandingkan dengan negara sekitar, tingkat HDI Indonesia jauh tertinggal.Contoh Malaysia berada diperingkat 66,  Thailand 78, dan Singapura 25. Indonesia hanya lebih baik dari Papua Nugini dan Timor Leste yang berada diposisi 145 dan 150. untuk lihat datanya klik

HDI merupakan potret tahunan untuk melihat perkembangan manusia di suatu negara. HDI adalah kumpulan penilaian dari 3 kategori, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Menjadi jelaslah bahwa, sudah saatnya Indonesia menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan. Apabilah hal ini tidak dibenahi, bukan hal mustahil daya saing dan kualitas manusia Indonesia akan lebih rendah dari negara yang baru saja merdeka seperti Vietnam atau Timor Leste.

Mungkin kita perlu berguru dari sebuah negara yang pernah porak poranda akibat perang. Namun kini telah menjelma menjadi negara maju yang memiliki tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi yang sangat tinggi. Jepang merupakan contoh bijak untuk kita tiru. Setelah Jepang kalah dalam perang dunia kedua,  dengan dibom atom dua kota besarnya, Hirohima dan Nagasaki, Jepang menghadapi masa krisis dan kritis kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat parah. Namun ditengah kehancuran akibat perang, ditengah ribuan orang tewas dan porandanya infrastruktur negaranya, Jepang berpikir cerdas untuk memulai dan keluar dari kehancuran perang. Jepang hanya butuh satu keyakinan, untuk bangkit. Berapa guru yang masih hidup…?

Hasilnya setelah berpuluh tahun berikut, semua orang terkesima dengan kemajuan yang dicapai Jepang. Dan tidak bisa dipungkiri, semua perubahan dan kemajuan yang dicapai, ada dibalik sosok Guru yang begitu dihormati dinegeri tersebut. di jepang gaji  seorang guru muda akan memperoleh 156,500 yen per bulan, dengan kurs rupiah (setara dengan 156,500xRp75.295=Rp 11,783,667), Selama 20 tahun bekerja seorang guru sekolah publik akan memperoleh gaji sebesar 362,900 yen atau setara dengan Rp 27,324,555 per bulan. sangat jauh sekali kalau di bandingkan dengan negara kita. Selain gaji, bonus dan extra gaji seperti di atas, terdapat pula beberapa tambahan gaji yang tidak berlaku nasional, misalnya : regional allowance, supporting family allowance, commuting allowance, head teacher allowance and head teacher instructor allowance, club activities instructor allowance. untuk melihat gaji guru luar negeri lainnya KLIK

jadi kesimpulannya saya seharusnya negara Indonesia memikirkan nasib para guru di Indonesia, jadikan profesi guru menadi high class profession (profesi yang tinggi) agar pendidikan di Indonesia lebih maju, sehingga akan menghasilkan SDM yang berkualitas. dengan SDM yang berkualitas negara ini akan menjadi negara yang maju dan diperhitungkan di dunia internasional. Semoga!

%d blogger menyukai ini: