Teknik Umum Konseling Perorangan

Pengembangan proses layanan PK oleh Konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses KP yang efektif dalam mencapai tujuan layanan. Teknik-teknik tersebut meliputi:

  1. Kontak mata
  2. Kontak psikologis
  3. Ajakan untuk berbicara
  4. Tiga M (mendengar dengan cermat, memahami secara tepat, merespon secara tepat dan positif)
  5. Keruntutan
  6. Pertanyaan terbuka
  7. Dorongan minimal
  8. Refleksi (isi dan perasaan)
  9. Penyimpulan
  10. Penafsiran
  11. Konfrontasi
  12. Ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain
  13. Peneguhan hasrat
  14. “Penfrustrasian” klien
  15. Strategi “tidak memaafkan klien”
  16. Suasana diam
  17. Transferensi dan kontra-transferensi
  18. Teknik eksperiensial
  19. Interprestasi pengalaman masa lampau
  20. Asosiasi bebas
  21. Sentuhan jasmaniah
  22. Penilaian
  23. Pelaporan

Penerapan teknik-teknik tersebut di atas dilakukan secara eklektik, dalam arti tidak harus berurutan satu persatu yang satu mendahului yang lain, melainkan terpilih dan terpadu mengacu kepada kebutuhan proses interaksi efektif sesuai dengan objek yang direncanakan dan susana proses pembentukan yang berkembang. Kontak psikologis dibina sejak awal-awal proses layanan yang di dalamnya ada ajakan untuk berbicara; selanjutnya berkembanglah interaksi intensif antara klien dan Konselor melalui pertanyaan terbuka, refleksi, penyimpulan, penafsiran, yang kadang-kadang (sesuai dengan keperluan) diselingi konfrontasi, ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain, dan peneguhan hasrat. Dalam pada itu, kontak mata, tiga-m, keruntutan dan dorongan minimal selalu mewarnai dan menyertai seluruh dinamika interaksi.
Teknik “menfrukstrasikan” dan strategi “tiada maaf” hanya digunakan secara benar-benar terpilih untuk membangkitkan dan menyadarkan klien akan tantangan yang harus ia hadapi serta meninggikan motivasi dan semangat dalam memasuki dan menggapai kesempatan yang terbuka. Kedua teknik ini, dan juga teknik konfrontasi,  seringkali diikuti oleh “suansana diam”
Teknik berkenaan dengan transferensi dan kontra-tranferensi dapat dimunculkan dalam proses layanan dengan kontak psikolgis yang benar-benar intens. Intensitas proses layanan dapat ditempuh lebih jauh melalui teknik-teknik eksperimensial, analisis pengalaman masa lampau, dan asosiasi bebas. Teknik-teknik yang disebut terakhir ini hanya dilakukan untuk keperluan pendalaman yang khas sesuai dengan permasalahan klien. Untuk pendalaman yang dimaksudkan itu, dan untuk memberikan nuansa yang lebih bersifat afektif, sentuhan jasmaniah dapat dilakukan.
Proses layanan KP diakhiri dengan kegiatan penilaian dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap kali sesi layanan KP, khususnya untuk kegiatan penilaian segera (laiseg).

%d blogger menyukai ini: